Karena Waktu Memahami Cinta Kita

KUNINGANMEDIA | Rabu, 20 Februari 2013 23:35
Bagikan ke Facebook
KM
Curug Putri Palutungan Cigugur Kuningan [Foto: Zoen Mahardika]

MALAM lbertabur bintang, dan udara yang dingin lembab telah kreasikan keheningan yang damaiketika perasaan menyatu dengan alam. Sedamai dalam nyanyian senja yang bersyair ketenangan. Dan aku terus menambahkan ranting‑ranting kering agar api unggun tidak meredup untuk hangatkan tubuhku.

Seindah sayap bidadari yang lembut, gumpalan kabut putih memeluk dengan mesra puncak gunung Ciremai. Dan perlahan merayap turun disebar angin menyentuh pucuk‑pucuk daun hutan pinus. Sungguh misteri namun lembut! Hati kecilku berbisik terkagum.

Aku mencoba untuk menyentuhnya dengan gemas, namun kabut seputih kapas itu selalu lolos dari genggaman tanganku. Sepertinya sengaja menggodaku, agar aku semakin penasaran akan misteri kabut yang hiasi bumi perkemahan Palutungan, Cigugur, kabupaten Kuningan, Jawa Barat.  

Di tengah kepungan misteri kabut, namun aku tidak merasa berada didalam hutan menyeramkan, karena panorama asap putih itu anugerah dari alam yang memberi pesan damai nan asri.

"Dingin namun damai malam ini!” Gumamku terbuai akan nuansa harmonis malam. Seiring dengan sayup-sayup suara gemericik air terjun dari curug Ciputri yang jaraknya sekitar lima ratus kilometer dari tendaku. Ingatanku kembali memutar ketika aku dan Bram sempat bercanda ria dicurug Ciputri yang airnya jernih karena berasal dari mata air hutan gunung Ciremai.

Setelah puas bermanja-manja dengan air curug Ciputri, aku dan Bram kembali ketenda untuk meneguk secangkir kopi susu hangat yang telah dipesan dari warung pak Sadik. Andai saja hari itu, aku bisa menjadi saksi kehadiran tangga-tangga warna pelangi yang melingkar hiasi curug Ciputri dalam gerimis hujan, tentu akan menambah nuansa yang lebih harmonis dan menyenangkan.

Hawa dingin semakin menusuk kedalam tubuhku, kemudian aku membetulkan kerah jaket tebalku. Aku tertegun tiba-tiba, karena ditengah tenang malam berkumandang alunan melodi gitar akustik yang merambat pelan namun jernih dan indah. Hingga mampu mengubah suasana misteri kabut menjadi romantis.

Aku melirik kearah sebelah kanan dimana samar‑samar dibawah kumpulan asap kabut terlihat Bram tengah asyik disamping Ego sahabatnya yang dengan lugas sedang memainkan alunan melodi gitar. Alunan lagu cinta lawas yang semua orang pasti mengenalnya yaitu Love Me Tender Milik Elvis Presley, penyanyi yang melegenda seantero jagad raya ini. Kebetulan secara bersamaan Bram juga sedang melirik kearahku. Aku melambaikan tangan memanggilnya untuk menemaniku. Dan kemudian dia tergesa-gesa menghampiriku.

“Kamu ingin berdansa?” Dia bertanya sambil tersenyum.

“Aku tidak pandai berdansa.” Jawabku tersipu.
Kemudian Bram sedikit membungkukkan tubuhnya untuk menjulurkan jemari tangannya kearahku.

“Apa yang akan kamu lakukan bram?” Tanyaku seraya meraih jemari Bram dan bangkit perlahan mengikuti ajakannya.

“Bercengkrama dengan kabut putih.” Jawabnya. Lalu dia memandangi jemariku yang terbungkus sarung tangan beludru, dengan pelan dia mengusap-ngusap jemariku. “Kulit jemarimu menjadi beludru malam ini.” Candanya, dan tersenyum.

“Dingin sekali.”  Ungkapku sembari sedikit tergelak.

Aku biarkan Bram mengangkat jemari tanganku untuk dikecup olehnya dengan lembut. Dan aku mampu merasakan desiran kasih yang dia tanam diruang hatiku. Perlahan dia menarik tubuhku agar lebih dekat dengannya. Akhirnya aku merasa nyaman mengikuti langkah kaki yang berseni, melenggang pelan, sambil memutar seirama alunan melodi gitar yang dimainkan oleh Ego dengan merdu dan damai. Pandangan mataku beradu dengan pandangannya, sembari asyik berdansa didalam kepungan kabut putih.

Bram mendekatkan bibirnya ditelingaku, dan lalu berbisik, “Terima kasih atas dansa manismu, Hannah.”  
Kemudian dia mengajakku berayun dengan langkah Waltz bersenyawa dengan alunan cinta gitar yang syahdu. Aku hanya mengikuti ayunan langkah kaki Bram yang berputar mengitari kobaran kecil api unggun dengan damai.

“Putarkan tubuhmu dengan tenang!”


Aku mengikuti arahan Bram dengan rasa senang, aku berputar pelan dibawah lengannya sembari tetap saling berpegangan, bertatapan, dan saling melempar senyuman.
“Aku merasa indah malam ini.” Ucapku bahagia, lalu tanpa dikomando oleh Bram, aku kembali berputar kelain arah dengan hati-hati dengan gerakan yang lebih manja.

“Kamu berdansa seperti bangau terbang diangkasa.” Bram memujiku. Entah hanya untuk membuatku senang, atau memang benar dia terpesona oleh gerakan dansaku yang bukan pemain dansa.

“Terima kasih, Bram.” Dengan manja aku mendekap tubuhnya erat. Dan lalu aku berucap. “Jangan pernah meninggalkan aku sendiri, karena aku tidak akan sanggup menahan rasa sakit dihatiku.” Aku utarakan isi hatiku yang sebenarnya, sambil merebahkan kepalaku didadanya.

“Tidak pernah.” Ujar Bram meyakinkanku. Kedua tangannya yang kuat namun lembut itu merangkul tubuhku hingga alirkan desiran halus menciptakan kehangatan bagi tubuhku.  

Aku sangat terharu bahagia, karena malam itu aku benar-benar bisa bercengkrama dengan kabut putih yang telah menghiasi ayunan langkah kakiku seiring dengan langkah kaki Bram dibawah hangatnya detak jantung asmara. Dan kabut putih yang damai tapi dingin telah menjadi saksi untuk aku dan Bram, yang saling berbagi rasa bahagia dalam alunan melodi cinta yang warnai asmaraku dan asmaranya melebihi indahnya warna pelangi dari nirwarna.

*****
Bram mendapat beasiswa dari perusahaan tempat dia bekerja untuk melanjutkan sekolah di Australia demi meraih Sertifikat Manajemen Bisnis. Sementara aku membeli rumah sederhana di Desa Palutungan, karena aku jatuh cinta akan panorama alam hutan pinus yang telah menciptakan udara dingin namun menyegarkan.

Dimana ketika aku membuka jendela kamarku disetiap fajar tiba, aku terkagum akan percikan sinar oranye yang mulai menembus mega-mega, dan hangatkan bumi dengan ramah. Pandangan kedua bola mataku menjadi hijau dan segar karena tersaji pemandangan dimana hamparan tanaman sayuran yang subur. Latar belakang gunung Ciremai yang gagah berdiri tegak bagaikan benteng raksasa yang melindungi desa Palutungan.

Betapa sangat menakjubkan!  Setiap saat aku dapat mendengar alam pegunungan berdendang dari desiran daun-daun pohon pinus yang gemulai diterpa angin. Dan kicau burung-burung saling bersahutan dari pepohonan yang rindang. Nyanyian pagi hari yang segar selalu hadir dihari yang cerah maupun didalam cuaca mendung.

“Neng, wilujeng enjing! (Neng, selamat pagi!)”

Aku sedikit kaget karena bibi Atikah yang sudah siap dengan peralatan kebunnya, tiba-tiba lewat didepan jendela kamar dan menyapaku, “Eh, bibi, mendung begini kok mau berkebun?” Teriakku heran, kemudian membuka jendela lebih lebar.

“Iya neng Hannah. Tapi bibi harus kekebun mau metik jagung buat nanti malam.”
“Oh, ada pesanan ya?”
“Iya, nanti malam banyak yang berkemah, biasa malam minggu.” Sahutnya dan tergelak kecil yang pancarkan wajah lugunya.
“Hati-hati bibi!”
“Iya neng, terima kasih.”

“Jangan lupa lempar kesini ya jagung bakarnya.” Aku sedikit bergurau, hingga membuat bibi Atikah tersenyum lebar. Lalu wanita setengah baya itu melenggang pergi dengan tergesa-gesa. Hanya jagung bakar bibi Atikah yang punya rasa berbeda dengan pedagang jagung bakar lainnya. Tak heran jagung bakar bibi Atikah selalu dicari para pengunjung yang hanya sekedar rekreasi menghilangkan penat ataupun untuk berkemah akhir pekan.


Aku kembali menutup jendela kamarku, karena angin dingin berhembus masuk bersama butiran-butiran kecil air hujan. Sesekali kilat menyambar menyeruak membelah angkasa. Aku terdiam sesaat, memandangi tetesan rintik-rintik hujan yang mengurai rerumputan dihalaman rumahku dari balik kaca jendela. Tak lama terlihat bibi Atikah kembali melintas dan berlari-lari pulang karena hujan telah menghentikan langkahnya untuk memetik jagung. Aku hanya mesem melihat tingkahnya yang lucu.

Ding… Dong… Suara bel pintuku berbunyi, segera aku membukakan pintu depan. “Waduh… Tarja!” Pekikku tertahan, karena Tarja datang disaat hujan mulai deras sambil membawa satu kantong plastik sayur bawang daun yang masih kelihatan segar.

“Bapak menyuruh saya untuk mengantarkan sayur buat Ibu.” Ucapnya dengan gaya yang polos.
“Terima kasih Tarja, tapi kamu kan bisa nunggu hujan reda!” Aku sedikit menegurnya. Sementara Tarja hanya tersipu malu. “Kapan panen sayurnya?” Aku bertanya dengan sikap ramah agar Tarja tidak merasa sungkan kepadaku.

“Kemarin.” Jawabnya singkat sambil mengusap wajahnya yang basah oleh air hujan.
“Tunggu sebentar!” Aku berlari kedalam untuk mengambil handuk kering. Terus aku bergegas kembali keluar buat Tarja.

“Hmm!” Ternyata aku telah kehilangan dia. Hanya ada sekantong plastik sayur bawang daun yang dia tinggalkan didepan pintu. Kiranya dia langsung pergi tidak mau menunggu handuk yang akan aku berikan untuk mengeringkan wajahnya yang basah kuyup oleh air hujan. Tetapi aku tidak mau ambil pusing, karena itu kemauan Tarja sendiri.
Setelah aku cuci bersih sayur bawang daun yang masih segar itu, terus aku bungkus kedalam pelastik bersih dan disimpan dikulkas agar tidak mudah layu.

Keluarga Tarja yang petani sayuran tidak pernah melupakanku untuk berbagi sayuran ketika panen tiba. Aku sangat beruntung karena aku tinggal disekitar petani‑petani yang baik dan ramah. Kadang aku turut bersama mereka dikebun sayur untuk mencoba menanam benih sayuran sambil menikmati udara segar dan pemandangan desa Palutungan yang cantik.

“Terima kasih Tuhan, atas berkah yang terindah ini.” Aku ucapkan syukur atas kedamaian yang aku miliki didesa wisata alam yang sejuk nan damai.
*****
Peluhku merembas dikeningku, aku turut berdesak-desakkan ditengah puncak keramaian upacara rasa syukur berkah panen adat Seren Taun di Cigugur. Aku terpesona oleh arak‑arakan empat formasi. Barisan paling depan dua gadis dengan mimik wajah yang suka cita sambil membawa padi, buah-buahan dan umbian. Mereka bagaikan dua bidadari yang sedang dikawal oleh seorang pemuda pemberani sambil membawa payung janur bersusun tiga. Aku berhasil menerobos ditengah kerumunan penonton untuk mendekati pemuda pengiring dua gadis itu, ternyata dia melirik kearahku. “Halo!” Teriakku menyapanya. Namun Pemuda itu hanya menebar senyuman manis, sambil terus berjalan mengiringi dua gadis yang manis-manis.

Pandangan mataku beralih kearak-arakkan kehadiran rombongan sebelas gadis yang membawa padi, dan masing-masing dipayungi oleh seorang pemuda yang gagah, hingga suasana semakin meriah. Aku tersenyum kagum untuk rombongan bapak‑bapak yang memikul padi dengan rengkong yang terkesan tanpa beban karena mereka bersuka cita. Kameraku terus mengabadikan setiap atraksi yang disuguhkan. Dan akhirnya giliran para penari yang berjalan melenggang sambil menari membawa buyung atau bejana untuk membawa air. Aku sangat beruntung karena aku bisa langsung menyaksikan ritual syukuran hasil panen bumi yang selalu diadakan setiap tahun, pada tanggal dua puluh dua Rayagung. Sebagai turis lokal, aku sangat bangga akan budaya yang lestari itu.
Ketika langit mulai mendung tepat dipenghujung puncak acara, aku mulai merasakan kelelahan. Kemudian dengan kerja keras aku berusaha untuk keluar dari kerumunan orang yang saling berdesakan. Dengan sabar aku berhasil juga menghindar dari keramaian, dan berdiri sejenak ditempat yang agak lengang. Terbesit untuk segera kembali pulang sebelum hujan deras tiba.  
Setelah membersihkan badanku, aku berbaring melepas lelah diranjangku. Aku menerawang jauh khayalkan Bram yang aku rindukan. Rasa kangen yang memuncak akan kehadiran Bram semakin membawaku kedalam nuansa sendu.
“Sedang apa dia disana sekarang?” Aku bertanya-tanya, karena perasaan kangen yang mulai menguat hebat dihatiku. Lalu aku mengambil Android tablet dari atas meja kecil disamping ranjangku. Ketika aku membuka mailbox, aku melihat ada email masuk darinya. Betapa indahnya kata‑kata yang dia curahkan buatku.
Bram, kamu yang termanis dihidupku! Hati kecilku berbisik mengaguminya. Hingga mataku berkaca-kaca terharu. Kata demi kata yang teruntai dengan manis membuat aku semakin mengerti betapa pentingnya aku baginya.

Hannah sayang,
Walaupun malam dilangit benderang oleh sinar bulan, namun pelita binaran cintamu lebih gemilau. Dan selalu terangi setiap langkahku, hingga aku tidak tersesat kelembah jurang yang gelap.
Cinta jarak jauh tidak pernah memisahkan dua hati yang saling memadu kasih. Kita boleh saja saat ini tidak saling berpelukan untuk menghabiskan waktu malam kita. Tetapi kamu adalah cinta satu‑satunya yang aku miliki didalam hatiku.
Terima kasih karena kamu selalu setia manantiku. Bayanganmu selalu bersamaku disini hangatkan malam dinginku. Kamu bagai sekuntum bunga mawar yang selalu tersimpan ditaman hatiku, tak akan pernah aku biarkan menjadi layu dan kusam. Karena aku mencintaimu.
Cintaku, aku sangat merindukanmu malam ini, disaksikan oleh percikan sinar bulan dan malam sepiku. Semua yang ada pada dirimu adalah yang terindah. Seindah warna bunga, seharum wangi kembang.
Dan aku sayang kamu,
Bram

Perasaanku berubah menjadi sangat hangat setelah membaca email dari Bram. Gairah hidupku semakin memuncak tuk meraih cita-cita bersatu selamanya bersama Bram. Aku teringat ketika pelukan hangatnya dipinggangku, aku tak sanggup memandang binar bola matanya yang cemerlang menembus kabut putih dihutan pinus.

Lalu dia mengecup bibirku dengan lembut sekali, hingga menghilangkan hawa dingin disekujur tubuhku.
Sekarang aku mengerti, walaupun benang cinta melintasi samudera, tetapi tak lekang oleh ganasnya gelombang ombak lautan yang mampu pecahkan karang.  Dan aku sangat yakin, suatu hari nanti Bram akan kembali kedalam pelukanku. Karena cinta memahami waktu dan waktu mengerti cinta.
Anganku menggambar indah raut wajah Bram, seindah syair-syair cinta yang teruntai dengan menawan didalam dinding hatiku,  Aku sayang kamu, Bram.  N.G  Dian

Kirim Komentar

Nama
Alamat email
Alamat Web
Komentar
Tulis Kode: