Agus Supriono, Inspirator Kampung Berseri Astra

Tekadnya Ingin Menyelamatkan Lingkungan

Ajun Mahrudin | Kamis, 28 November 2019 22:08
Bagikan ke Facebook
KM
Agus Supriono, Inspirator Kampung Ramah Lingkungan Merbabu Asih, Kelurahan Larangan, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon, Propinsi Jawa Barat. Asih [Foto: Ajun Mahrudin]

“Menyelamatkan lingkungan itu wajib, suka atau tidak harus bergerak bersama. Kita hidup di lingkungan hidup, sekecil apa pun upaya menyelamatkan lingkungan harus terus dilakukan,” kata Agus Supriono, Ketua RW.08 Merbabu Asih, Kelurahan Larangan, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon, Provinsi Jawa Barat, Sabtu, (9/11/2019).

Prinsip-prinsip itu ia pegang serta ditanamkan kepada warga di lingkungannya, untuk melakukan gerakan bersama memelihara lingkungan sekitar kawasan Merbabu Asih dengan harapan tercipta satu kawasan yang ramah lingkungan.

Agus tidak memungkiri kondisi lingkungan RW.08 Merbabu Asih pada tahun 2009 kurang perawatan, pemeliharaan serta penataan. Kondisi itu yang mendorong pria kelahiran tahun 1964, itu untuk melakukan upaya merubah kawasan yang kurang baik menjadi lebih baik.

Langkah awal yang ia lakukan yaitu dengan memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai pentingnya memelihara lingkungan. Hal itu dilakukan agar ada keselarasan dalam mewujudkan harapan terciptanya kawasan permukiman yang bersih, sehat, indah serta Asri.

Selain itu dalam upaya memberikan pendidikan mengenai berbagai persoalan lingkungan kepada masyarakat. Harapannya warga memahami target yang hendak dicapai dalam mewujudkan kawasan permukiman yang ramah lingkungan.

Target Agus tidak muluk-muluk, masyarakat memahami arti penting memelihara lingkungan yang bisa dilakukan untuk menciptakan kawasan Merbabu Asih yang ramah lingkungan yang dibangun kesadaran serta partisipasi masyarakat.

Oleh karena itu, langkah awal yang ia tempuh dengan cara membangun Sumber Daya Manusia (SDM) masyarakat Merbabu Asih agar mempunyai kesalehan terhadap lingkungan, dengan kata lain membangun manusia yang cinta terhadap lingkungan.

“Orang yang mempunyai kesalehan terhadap lingkungan, tentu ia akan terketuk hati untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi lingkungan,” kata inspirator terbaik Kampung Berseri Astra (KBA) se-Indonesia Tahun 2017 itu.

Ia mengaku tidak bisa formal dalam memberikan pemahaman kepada masyarakat. Soalnya, dengan masyarakat tidak bisa doktrin. Artinya harus dengan lemah lembut, kasih sayang, pendekatan yang humanis.

“Saya harus mampu menjelaskan permasalahan yang kompleks sekalipun kepada masyarakat awam, dengan bahasa awam sampai orang awam itu mengerti,” kata Agus Supriono.

Dalam berbagai kesempatan ia selalu mengingatkan kepada warga agar mengutamakan hal yang memberikan manfaat lebih dibanding manfaat sesaat, meskipun secara kasat mata memberikan keindahan bagi lingkungan.

Misalnya terkait membuat lukisan tiga dimensi, tempat selfi serta membuat properti lainnya, lebih baik jika mendahulukan membangun sarana yang bisa mendukung dalam upaya menyelamatkan lingkungan.

“Bukan tidak boleh membuat lukisan tiga dimensi dan tempat selfi, tapi itu ruhnya belum dapat. Jauh lebih bijak mendahulukan membangun biopori, kolam resensi dan vegetasi, baru itu ruhnya dapat, ” ujarnya.

Memelihara Titipan

Untuk mempertegas pemahaman soal lingkungan, Agus Supriono tak jarang memberikan gambaran kepada warga mengenai manfaat dan dampak lingkungan. Contoh sederhana tentang mengapa di lingkungan harus menanam tanaman rambat, membuat lubang resapan biopori, memasang paving blok serta hal lainnya.

Begitu pula tentang terjadinya soal bencana alam longsor, banjir, perubahan iklim dan bencana alam lainnya. Fungsi-fungsi dan manfaat serta dampak lingkungan itu ia terangkan kepada warga, dengan harapan setelah memahami warga mau melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi lingkungan.

Dalam pandangan Agus Supriono, semua orang yang mempunyai akal sehat pasti mampu melakukan sesuatu yang bernilai baik terhadap lingkungan. Contoh sederhana membuang sampah pada tempatnya, namun persoalannya bukan mampu atau tidak tapi mau atau tidak.

Untuk membangun warga agar lebih cinta terhadap lingkungan, salah satu diantaranya melalui pendekatan pendidikan agama sesuai kepercayaan agamanya masing-masing. Semua agama mengajarkan kebaikan, termasuk dalam soal merawat alam yang merupakan bagian ibadah.

Menurutnya, sesuatu yang bernilai ibadah tentu ada pahalanya, oleh karena itu motto Program Kampung Iklim Merbabu Asih yaitu Rugi Ana Pahala E Dilakoni Apa Maning Ana Untunge (Rugi Ada Pahalanya Dilakukan Apalagi Ada Untungnya). Ini mengandung makna rugi maupun untung sama-sama dilakoni karena ada pahalanya.

 Dalam konteks menyelamatkan lingkungan, kata Agus, jangan berpikir untung dan rugi apalagi menunggu regulasi dan nominasi. Apa pun yang bisa dilakukan untuk lingkungan harus dilakukan sejak dini.

“Alam bukan warisan tapi titipan yang harus dijaga dan dipelihara. Tekad saya merawat alam dan lingkungan yaitu ingin menyelamatkan lingkungan. Perubahan iklim sudah terjadi dan akan terus terjadi, pencemaran udara, pencemaran laut dan kerusakan lingkungan permukiman lainnya,” paparnya.

Kondisi tersebut tidak boleh dibiarkan, karena mengancam kenyamanan serta keselamatan manusia serta mengakibatkan kerentanan kehidupan aneka hayati.

Penyejuk di Tengah Perbedaan

Membangun silaturahmi dengan warga, cara lain yang Agus lakukan dalam memberikan pemahaman soal lingkungan kepada masyarakat. Berbagai pertemuan ia manfaatkan untuk menyuarakan gerakan lingkungan.

Tak jarang Agus berkunjung ke tempat-tempat peribadatan yang ada di lingkungan RW. 08 untuk melakukan kordinasi dengan masing-masing tokoh atau pemuka agama, agar pemuka agama menyampaikan pesan ajakan soal memelihara lingkungan.

Agus pun tak canggung untuk menjumpai ibu-ibu Tim Penggerak PKK, kelompok pemuda, remaja, lansia dan anak-anak usia dini untuk memberikan wawasan serta pengetahuan mengenai lingkungan.

 

Sebagai penggerak lingkungan di lingkungan masyarakat yang heterogen, Agus Supriono harus mampu menyikapi perbedaan. Lingkungan RW.08 Merbabu Asih Kelurahan Larangan, yang jumlah penduduknya 617 jiwa (59 kepala keluarga), itu beragam agama, suku, adat, sosial serta latar belakang pendidikan.

“Di sini saya harus mampu menjadi penyejuk di tengah perbedaan, karena warga kami beragam latar belakang pendidikan, agama, suku, sosial dan adat,” tutur Agus Supriono.

Ia bersyukur karena di tengah perbedaan itu ada sesuatu yang indah, kehidupan masyarakat RW.08 Merbabu Asih rukun dan damai. Mereka mampu menjalin hubungan yang harmonis antar warga, meski berbeda suku, agama dan perbedaan-perbedaan lainnya.  Sikap saling menghargai, menghormati, toleransi antar warga terjalin baik di lingkungan itu.

Bagi Agus hal itu potensi besar yang tidak bisa diukur dengan nilai materi, karena sehebat apa pun program tidak akan berhasil jika masyarakatnya tidak rukun dan damai. Apalagi dalam membangun kampung ramah lingkungan membutuhkan kebersamaan, kekompakan warga.

Oleh karena itu ia selalu mengajak warganya agar nilai-nilai kerukunan itu terus dipelihara dalam aspek kehidupan di lingkungan, termasuk diaplikasikan dalam gerakan membangun kampung ramah lingkungan. Masing-masing tokoh atau pemuka agama di lingkungan berperan dalam menyosialisasikan program Kampung Ramah Lingkungan melalui mimbar dawah di beberapa tempat peribadatan.

Misalnya tempat peribadatan umat Islam, Budha, Hindu dan Nasrani yang ada di lingkungan masyarakat RW.08 Merbabu Asih. Hal itu dilakukan untuk memberikan pemahaman khususnya kepada jemaah masing-masing majelis mengenai pentingnya merawat alam dan lingkungan.

Pemahaman soal lingkungan yang disampaikan masing-masing pemuka agama, itu lebih mengarah upaya menggugah hati dan kesadaran agar tumbuh kecintaan warga terhadap alam dan lingkungan.

“Bukan hal teknis, ini hanya salah satu upaya memberikan pencerahan untuk memupuk kesadaran merawat alam dan lingkungan,” kata Agus Supriono.

Menggagas Komunitas Lingkungan

Menggagas Komunitas Lingkungan Kampung Ramah Lingkungan Merbabu Asih, tidak bisa dipisahkan dengan Komunitas Secerah Pagi yang secara kelembagaan kepengurusannya dibentuk pada bulan Mei 2010. Agus menggagas lahirnya komunitas ini, untuk melakukan kolaborasi dalam menyusun strategi mewujudkan kampung Ramah Lingkungan Merbabu Asih itu.

Secerah Pagi yang merupakan singkatan dari  Semoga Cepat Rapih Pekarangan Asri Gemerlap Indah, itu cita-cita bersama warga yang diaplikasikan langkah nyata merubah kondisi lingkungan yang kurang baik menjadi lebih baik.

Komunitas secerah pagi berorientasi pada pengelolaan sampah rumah tangga, penghijauan, kebersihan lingkungan dan pemanfaatan limbah serta pelatihan mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan lingkungan.

“Konsep yang kami bangun sederhana yaitu dengan cara berkumpul, berpikir jernih, bercita cita mulia , mendata personil, kebersamaan, kesahajaan, kepekaan terhadap lingkungan dan komitmen terhadap upaya penyelamatan lingkungan,” .Agus menjelaskan.

Ada empat unit kerja dalam komunitas ini, yaitu unit komposting, kerajinan, rekayasa dan unit pelatihan. Unit-unit kerja itu sengaja dibentuk, tujuannya agar mereka warga yang tergabung dalam komunitas itu fokus pada garapan masing-masing.

Meski begitu, unit kerja komposting maupun kelompok kerajinan limbah sama-sama bergerak untuk memungut limbah atau sampah rumah tangga langsung dari sumbernya yaitu di sekitar rumah warga.

Sampah dan limbah rumah tangga yang berhasil dipungut masing-masing kelompok, kemudian diangkut ke tempat penampungan khusus untuk diolah menjadi kompos dan kerajinan yang punya nilai harga jual cukup tinggi.

Penanganan serta pengelolaan sampah dan limbah rumah tangga yang dilakukan komunitas secerah pagi, itu bukan hanya menghasilkan produk kerajinan daur ulang, namun mampu mengurangi volume sampah yang harus diangkut ke Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPSA).

Selain itu merubah pola-pola pembuangan sampah yang menimbulkan persoalan terhadap lingkungan sekitar seperti pencemaran lingkungan, yang berdampak buruk terhadap kesehatan masyarakat lingkungan sekitar.

Agus Supriono menerangkan, dalam satu mingggu rata-rata sampah yang berhasil dipungut langsung dari sumbernya mencapai 24,00 meter kubik yaitu 6 meter kubik sampah an organik dan 18 meter kubik sampah organik.

Sampah itu direduksi 15 persen artinya dapat mengelola sampah dan limbah 3. 6 meter kubik. Selainnya 20,40 meter kubik diangkut ke TPSA.

“Alhamdulillah, tahap awal pada tahun 2009 kami membentuk bank sampah, kompos, kerajinan daur ulang, edukasi. Masing-masing warga punya tugas berbeda, namun dilakukan bersama tidak farsial,” kata Agus.

Kegiatan dalam komunitas itu terus berkembang, sehingga terbentuk Kelompok Wanita Tani (KWT) Secerah Pagi yang bergerak dalam budidaya tanaman sayuran hidroponik di pekarangan rumah maupun di lahan khusus. budidaya tanaman sayuran hidroponik telah berdampak baik terhadap  kesehatan lingkungan.

Selain itu telah berdampak  pula terhadap meningkatnya ekonomi masyarakat karena menghasilkan untuk menambah penghasilan keluarga, paling tidak untuk konsumsi di lingkungan keluarga sehingga berdampak pada pengendalian inflasi.

Meski begitu,  program-program lain yang dikelola oleh komunitas Secerah pagi tetap berjalan. Bahkan satu program dengan program lainnya saling mendukung yang bermuara terhadap upaya menyelamatkan lingkungan.

Kondisi Lingkungan RW.08 Merbabu Asih yang 10 tahun terkesan kurang baik, kini berubah menjadi lebih baik. Bahkan pada tahun 2018 lalu, tepatnya pada 24 Oktober, Kampung Ramah Lingkungan Merbabu Asih mendapat Anugerah dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI sebagai Kampung Program Iklim Lestari Terbaik se-Indonesia.

Hal itu bisa terwujud karena hasil kerjasama yang baik masyarakat di lingkungan tersebut, yang mendapat dukungan  Pemerintah  Kota Cirebon dan pihak perusahaan swasta, salah satu diantaranya yaitu PT. Asuransi Astra.

Pemerintah Kota Cirebon memberikan bantuan dan pembinaan melalui Program Kampung Iklim  (Proklim). Sedangkan PT. Asuransi Astra memberikan bantuan dan pembinaan melalui Program Kampung Ramah Lingkungan, pada tahun 2016.

Bantuan pemerintah maupun pihak swasta sangat terasa dalam upaya pengembangan penataan lingkungan Merbabu Asih. Bahkan Agus masih ingat ketika PT. Asuransi menggelindingan Program Kampung Ramah Lingkungan dengan menyulap lahan fasum menjadi Taman Asuransi Astra yang indah.

Masyarakat Merbabu Asih saat itu mendapat apresiasi dari Pemerintah Kota Cirebon, karena dinilai telah mampu meyakinkan PT. Asuransi Astra menyalurkan dana CSR (Corporate Social Responsibility) untuk membangun taman serta memberikan bantuan tanaman vegetasi dalam upaya  menghijaukan kawasan permukiman tersebut.

 Dengan dibangunnya taman itu, telah mendorong semangat masyarakat untuk terus melakukan kiprahnya membangun kampung ramah lingkungan yang berkesinambungan.

Ada kebanggaan tersendiri bagi Agus Supriono, karena Kampung Ramah Lingkungan Merbabu Asih sering dikunjungi warga luar daerah. Bukan hanya warga dari daerah-daerah yang ada di Indonesia, melainkan banyak warga dari luar negeri yang datang untuk menimba ilmu mengenai pengelolaan lingkungan. Diantaranya Australia, Inggris, Swedia, Canada, England dan Ameria Serikat.

“Kami terbuka kepada siapa pun yang ingin belajar mengenai pengelolaan lingkungan. Mari kita bersama untuk berupaya memelihara lingkungan dengan satu niat dan tekad ingin menyelamatkan lingkungan,” kata Agus Supriono.

Mobil Gowes

Di salah satu ruangan Balai Pertemuan Kampung  Lingkungan RW.08 Merbabu Asih ada mobil gowes hasil inovasi yang dirancang khusus oleh warga. Mobil gowes itu  ibukan sekadar  pajangan untuk melengkapi produk kerajinan yang memanfaatkan barang bekas, namun biasa digunakan setiap hari Minggu untuk membawa anak-anak keliling kampung.

Mereka diajak bermain sambil mengenal lingkungan sekitar, memungut sampah rumah tangga seperti plastik, kertas, botol bekas air kemasan dan sampah rumah tangga lainnya yang sudah disiapkan di masing-masing rumah warga. Sampah-sampah rumah tangga itu kemudian diangkut menggunakan kendaraan bak terbuka untuk ditampung di tempat khusus yang sudah disiapkan oleh petugas kebersihan, untuk diolah menjadi barang kerajinan atau dijual sehingga punya nilai manfaat.

“Ini cara kami menerapkan pendidikan lingkungan yang menyenangkan kepada anak-anak usia dini,” kata Agus Supriono..

Upaya itu dilakukan agar-anak usia dini mengenal lingkungan sehingga dalam dirinya tertanam kecintaan terhadap lingkungan. Diharapkan setelah mereka besar menjadi manusia yang peduli serta cinta terhadap lingkungan. ***

Kirim Komentar

Nama
Alamat email
Alamat Web
Komentar
Tulis Kode: