Kabara Dari Desa Cipondok (Bag III)

Makam Leluhur Desa Cipondok

KUNINGANMEDIA | Ahad, 15 April 2018 07:28
Bagikan ke Facebook
KM
Komplek Makam Raden Noer Sungeb [Foto: Ajun]

DI Desa Cipondok, Kecamatan Cibingbin, ada satu lokasi pemakaman  yang mempunyai nilai sejarah khususnya bagi masyarakat desa tersebut. Lokasi makam dimaksud adalah makam Paniisan yakni tempat dimakamkannya Raden Noer Sungeb, salah satu tokoh (sesepuh) masyarakat Desa Cipondok yang cukup berperan  di  Desa Cipondok pada abad XII Masehi.

Makam Raden Noer Sungeb terletak di sekitar perkampungan penduduk Blok Paniisan, kurang lebih 500 meter arah timur pusat pemerintahan Desa Cipondok. Keberadaan makam ini tidak seperti makam pada umumnya, bahkan boleh dibilang memiliki keunikan dibandingkan makam-makam  leluhur desa lainnya di Kabupaten Kuningan.

Makam itu ada dalam satu komplek yang di dalamnya ada beberapa sarana mulai  kamar mandi, dapur, mushola dan tempat tidur dilengkapi penerangan lampu listrik, tak jsuh beda jika kita memasuki satu kawasan villa. Selain itu, di sekitar komplek makam Raden Nur Sungeb ada taman yang cukup luas. Beberapa jenis tanaman tumbuh menghiasi taman,  membuat suasana di sekitar makam terasa sejuk menyenangkan.

Pada momen-momen tertentu terutama pada bulan Syawal, Makam Raden Nur Sungeb  banyak dikunjungi oleh orang yang bermaksud ziarah. Bukan saja warga Cipondok, melainkan dari luar daerah diantaranya saja dari  Cirebon, Bandung dan Jakarta. Mereka umumnya keluarga keturunan Babah Duwegan yang mempunyai hubungan erat dengan leluhur masyarakat Desa Cipondok itu.    

Hal tersebut tentu saja tidak terlepas dari peristiwa .masa lalu, ketika Raden Sungeb pernah kedatangan salah seorang babah dari Cirebon. Dia menemui Raden Soengeb tiada lain untuk meminta bantuan sehubungan sudah lama tidak mempunyai anak.

Singkat cerita, babah tersebut oleh Raden Noer Sungeb diberi duwegan (kelapa muda) yang airnya untuk diminum oleh istri babah tersebut. Berkat keagungan yang maha kuasa, upaya yang dilakukan oleh Raden Nur Soengeb itu dikabul.

Beberapa  bulan kemudian setelah meminum air kelapa, istri babah itu hamil selanjutnya melahirkan sehingga bayi yang baru lahir itu diberi nama babah Duwegan.

Sejak itulah hingga kini banyak keturunan babah Duwegan yang berkunjung ke Makam Raden  Noer Songeb. Tidak saja berkunjung, tapi juga mengadakan silaturahmi dengan  masyarakat termasuk membantu jalannya roda pembangunan di Desa Cipondok. (AM)*

Sumber : Buku Kabar Dari Desa Cipondok, Pemdes Cipondok & KUNINGANMEDIA

 

Kirim Komentar

Nama
Alamat email
Alamat Web
Komentar
Tulis Kode: