Gerakan Tentara Pelajar di Kuningan (Bagian 7)

KUNINGANMEDIA | Ahad, 10 November 2013 20:56
Bagikan ke Facebook
KM
Tugu Pahlawan Samudera di Ds. Babakanmulya, Kec. Jalaksana [Foto: Zoen Mahardika]

Salah seorang , kakek MS Moh. Sulaeman bernama MS Moh. Hanafi telah bergabung dalam Tentara Pelajar di Ciwaru (Yon 400 Brigade XVII). Peristiwa mengenaskan terjadi pada tanggal 5 Februari1949. Adjid, Afidik dan Holil ditembak oleh serdadu Belanda.Mayatnya diketemukan di Sungai Cisande dekat jembatan antara Desa Cilowa dan Karamatmulya. Mereka adalah pahlawan bangsa dan tetap konsisten tidak mau memberitahukan perihal teman-temannya yang lain sampai akhir hayatnya.

Ketiga mayat “Kusuma Bangsa”itu diambil dan dikebumikan oleh Sukardi, Mantri Kesehatan dan Sersan Ahmad Sukanda dari Dinas Kesehatan Tentara di Makam Gede Kota Kuningan.

Bentuk persahabatan ketiga Tentara Pelajar yang begitu erat, seia-sekata dan senasib-sepenanggungan yaitu Adjid, Afidik dan MS Moh. Sulaeman, mereka menamakan dirinya “de drie Musketier”. Setelah terjadi penembakan terhadap Tentara Pelajar, sekolah ditutup, para pelajar tidak dapat belajar lagi. Sedangkan Tentara Pelajar lari ke pedalaman menggabungkan diri dengan pasukan TNI yang tersebar di berbagai tempat.

Seluruh anggota Tentara Pelajar berduka cita, demikian pula gerilyawan dan masyarakat Kuningan. Kita kehilangan pemuda, pelahar, pejuang yang telah mengorbankan jiwanya, untuk memperjuangka tetap tegaknya negara Republik Indonesia, padahal mereka masih sangat muda. Tidak berlebihan pabila kita selalu mengingat jasa-jasa para pahlawan bangsa, dengan cara bekerja keras tanpa pamrih mengisi kemerdeaan.

Tentara Pelajar tidak hanya bergerak di Kota Kuningan, tetapi juga berjuang di wilayah kecamatan-kecamatan. Di Kecamatan Subang dikenal beberapa orang TP yang bernaa Sukandi, Ramlan, Sutadi, Zainal Arifn, Siti Sukaesih dan Oon Suyatman. Mereka berarkas di ruah Soma Wisastra di Desa Subang. Di Kecamatan Cibingbin antara lain Endang Kadarisman dan Iis Iskandar, dari Kecamatan Garawangi di antaranya Eem Sumantri dan Hamdi. Dua orang Tentara Pelajar yan gigih berjuang melawan Belanda dikenal pemberani adalah Sumardi dan Abdullah.

Pasukan Tentara Pelajar yang berjuang di wilayah Kecamatan Kuningan ini tergabung dalam Pasukan Tentara Pelajar Batalyon 400 Brigade XVII di bawah pimpinan Salamun AT yang pada waktu itu dipusatkan di Ciwaru.

Setelah pengakuan kedaulatan Republik Indonesia oleh Belanda pada tanggal 17 Desember 1949. Sekolah Menengah di Kota Kuningan dibuka kembali, dan menggunakan gedung HIS (Sekarang SMPN 1 Kuningan). Banyak bekas Tentara Pelajar yang bersekolah kembali, meskipun ada pula yang terus menjadi tentara.***    

 Dikutip Dari : Buku Sejarah Perjuangan Rakyat Kuningan (Dewan Harian Cabang Angkatan '45 Kabupaten Kuningan).

Kirim Komentar

Nama
Alamat email
Alamat Web
Komentar
Tulis Kode: