Gerakan Tentara Pelajar di Kuningan (Bagian 6)

KUNINGANMEDIA | Jum'at, 04 Oktober 2013 22:35
Bagikan ke Facebook
KM
Tugu Pahlawan Samudera di Ds. Babakanmulya, Kec. Jalaksana [Foto: Zoen Mahardika]

Belanda bersama ID sering mendatangi sekolah.Mereka gemar menggeledah ruang belajar dan menatapi wajah setiap pelajar satu per satu, sehingga para pelajar merasa takut dan gemetar merasakan perlakuan pasukan Belanda itu. Suatu waktu, pasukan Belanda datang lagi ke sekolah (entah untuk keberapa kalinya Kali ini kedatangan mereka adalah untuk mecocokkan huruf yang terdapat pada plakat dengan mesin tik yang ada di sekolah, ternyata semua persis.

Maka dengan geram dan marah, Belanda mendesak kepada salah seorang guru untuk untuk memberi informasi, siapa yang biasa meminjam mesin tik tersebut. Karena takut, dengan terpaksa salah seorang guru memberi tahu bahwa beberapa orang pelajar sering meminjam mesin tik sekolah. Guru tersebut bernama Rahmat berasal dari Jatibarang-Ciledug. Ia disinyalir adalah mata-mata Belanda, Selanjutnya, ia dilaporkan oleh Tentara Pelajar dan lalu ditangkap oleh TNI kemudian dibawa ke daerah Darma lalu ditembak mati.

Sejak peristiwa itu, para pelajar yang tergabung dalam Tentara Pelajar merasa tidak tenang berada di sekolah.Mereka selalu gelisah dan harus waspada menghadapi kegiatan ID. Akhirnya mereka ikut bergabung dengan pasukan TNI di pedalaman. Ketika baru tiga hari pulang dari pedalaman setelah mengikuti rapat, pada 31 Januari 1949 kira-kira pukul 9.00 pagi, tiba-tiba rumah Afidik digeledah oleh ID. Ternyata di rumah itu terdapat beberapa plakat yang belum selesai dikerjakan. Afidik biasanya tidak membuat plakat-plakat di rumahnya, kadang-kadang di kebun, di ruma teman yang dapat dipercaya. Pada waktu sore hari itu juga Afidik dan Holil ditangkap oleh Belanda.

Di sekolah keesokan harinya ramai dibicarakan para pelajar bahwa Apidik dan Holil ditangkap. Pada hari itu juga MS Moh. Sulaeman dan Adjid mendapat peringatan dari E. Madrohim, untuk segera meninggalkan kota Kuningan.  Adjid tidak mau meninggalkan kota, ia ingin tetap berjuang di dalam kota.

Pada tanggal 2Februari 1949, Adjid ditangkap oleh Belanda di rumahnya. Belanda mendatangi pula rumah MS Moh. Sulaeman dengan maksud yang sama. Tetapi MS Moh. Sulaeman sudah tidak ada. Belanda tetap menggeledah rumahnya MS Moh. Sulaeman menyusul kakaknya, MS Moh Halil (yang telah bergabung dengan TNI di Sektor III Desa Sagarahiang bersama sama dengan Mashud Wisnu Saputra dan Ahmad Sanusi).

Salah seorang kakak MS Moh. Sulaeman bersama MS Moh. Hanafi telah bergabung dalam Tentara Pelajar di Ciwaru (Yon 400 Brigade XVII).  .Dikutip Dari : Buku Sejarah Perjuangan Rakyat Kuningan (Dewan Harian Cabang Angkatan '45 Kabupaten Kuningan).

Kirim Komentar

Nama
Alamat email
Alamat Web
Komentar
Tulis Kode: