Sapton, Tradisi Hari Jadi Kuningan

Zoen Mahardika | Senin, 02 September 2013 00:05
Bagikan ke Facebook

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined index: mf_title

Filename: modpublic/v_seratan.php

Line Number: 149

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined index: mf_fotografer

Filename: modpublic/v_seratan.php

Line Number: 149

KM
[Foto: ]

SINDANGAGUNG, (KM): Sudah menjadi tradisi tahunan, setiap memperingati hari jadi Kuningan, pemerintah daerah melalui Dinas Pariwisata dan Keudayaan kabupaten Kuninngan meggelar acara Sapton. Tak terkecuali pada peringatan hari Jadi Kuinigan  September tahun 2013 ini Sapton kembali dilaksanakan di lapang Desa Kertwangunan, Kecamatan Sindangagung, Minggu  (1/9/2013), setelah Sidang Paripurna Peringatan hari Jadi Kuningan di Gedung DPRD Kabupaten Kuningan

Berdasarkan pantauan, acara diawali dengan prosesi atau upacara yang menggambarkan keadaan masa kerajaan. Sejumlah peserta pun sudah mempersiapkan unjuk kebolehan untuk mengikuti adu ketangkasan menunggang kuda, dengan mengenakan kostum mirip pada jaman kerajaan.

Misalnya  patih, adipati dan tumnggung memakai  bendo, baju taqwa dain  kain lancar.Sementara,  demang mengenakan pakaian yng lebih sederhana seperti kain odot, celana pangsi, sandal karet (sendal bandol) yang talinya sampai lutut. Begitu pula para menak, pamager sari mengenakan pakaian yang sama seperti dipakai adipati dan  tumenggung. Ada pula mengenakan  pakaian kebaya.


Adipati, tumenggung dan  demang menunggangi kuda diikuti oleh para prajurit atau ponggawa yang mengenakan pakaian sampur, rompi, calana kain dodot, sendal serta  membawa tumbak, tameng dan keris, kujang, pedang, gondewa dan umbul-umbul.

Kepala Disparbud Kabupaten Kuningan Tedy Suminar menyatakan,, Sapton berasal dari kata Saptu (Sabtu) yakni acara rutin dilaksanakan setiap hari Sabtu setelah kegiatan seba raga (sidang) yang diadakan di sekitar Istana Karajaan Kajene (Kuningan) tempo dulu.

"Pergelaran sapton agak mirip dengan pacuan kuda tradisional. Hanya saja, saptonan bukan lomba memacu kuda,  tapi  merupakan uji ketangkasan menunggangi kuda sambil; melempar tombak ke arah ember berisi air yang digantung di tiang atau gawang sapton,"kata Teddy Suminar.

Menurut Teddy, Sapton sebenarnya memiliki makna yang dalam seperti  heroisme, katangkasan berkuda ini dulunya dalam rangka bela nagara serta simbol kekompakan pemerintah dengan rakyat.
Sementara, Bupati Kuningan H. aang Hamid Suganda berharap tradisi yang punya makna ssejarah dan nilai tradisional ini tidak hanya dijadikan tontonan, tapi mampu menggugah masyarakat dalam upaya memelihara kearifan lokal dan menjadi daya tarik wisata daerah. (Zoen)***
 

Komentar (1)

drs muhyidin Msi

salam untuk kadis parbud kabupaten kuningan jawa barat pk tedy suminar semoga sukses

Kirim Komentar

Nama
Alamat email
Alamat Web
Komentar
Tulis Kode: