“POST POWER SYNDROME” PENSIUNAN…?

KUNINGANMEDIA | Ahad, 23 Juni 2013 10:45
Bagikan ke Facebook

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined index: mf_title

Filename: modpublic/v_seratan.php

Line Number: 149

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined index: mf_fotografer

Filename: modpublic/v_seratan.php

Line Number: 149

KM
[Foto: ]

Ketika seorang aparatur Negara dilantik atau ditugaskan, umumnya tak terlintas dalam benaknya bahwa tugas yang dipercayakan kepadanya adalah titipan dan amanah meski tugas itu datang dari berbagai instansi. Tapi jika kita dalami hakikatnya merupakan titipan Allah SWT, yang pada gilirannya akan berahir dan mendapatkan status baru sebagai… mantan ‘PNS’ atau lebih dikenal dengan ‘pensiunan’.

Menyikapi datangnya masa pensiun bagi sebagian PNS menjadi sesuatu yang meresahkan, ‘was-was’ bahkan mugkin sangat menakutkan, apa lagi jika yang bersangkutan belum siap menghadapi hal tersebut. Terkadang secara psikologis kurang bisa menerimanya, bagi individu yang bekerja adalah suatu masa bagi seseorang untuk melepaskan segala aktivitas kerja yang selama ini memberikan kedudukan dan kebanggaan tersendiri dilingkungan sosial.

Sebagai umat yang beragama harus mau menyadari semua itu. Ibarat karier seseorang, kehidupan manusia dilahirkan tumbuh dewasa dan tiada. Begitu juga dengan kita dari yang tadinya tidak bekerja, bekerja dan berahir, kemudian pensiun.

Berbicara masalah penghasilan ketika masih aktif sebagai ‘PNS’ disbandingkan setelah pensiun terdapat perbedaan. Contohnya sebagai pegawai aktif makin lama kedudukan makin baik, pangkat makin tinggi, penghasilan dan fasilitas kian bertambah, sehingga beban hidupnya makin berkurang. Sedangkan pensiunan makin lama semakin tua, fasilitas diluar uang pensiun tidak ada, padahal beban hidupnya tidak berkurang bahkan ada yang makin bertambah. Untuk itu para pensiunan harus menyadari dan menerima keadaan dengan ikhlas dan bersyukur kepada Allah SWT.

Sebaliknya manakala yang tidak menyadari, akan menjalani masa pensiun dengan penuh kecemasan. Gaji selagi aktip tidak cukup untuk keperluan hidupnya, apalagi setelah pensiun segala fasilitas yang ada akan hilang seolah-olah merasa hidupnya terasing seorang diri. Hal ini bertentangan dengan kodrat manusia sebagai mahluk sosial. Keadaan itulah yang menyebabkan merosotnya semangat hidup pensiunan. Dalam kaitan ini, untuk menghindari “Post Power Syndrome”, meskipun sudah pensiun, diharapkan tetap memberikan sumbangan pemikiran untuk memajukan daerah, baik dilingkungan masyarakat maupun organisasi guna mempererat persatuan dan kesatuan. Selanjunya diharapkan para pensiunan menjadi anggota Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI) sebagai wadah para pensiunan PNS.

“PEMBERDAYAAN PENSIUNAN”

Pensiunan PNS dalam anggaran dasar KORPRI juga disebut sebagai anggota luar biasa yang mempunyai hak untuk mendapat perlindungan, dan sebagaimana tercantum dalam program umum KORPRI tahun 2004-2009 hasil Munas VI KORPRI tahun 2004 terdapat program pokok Usaha dan Kesejahteraan yang intinya dalam upaya pemberdayaan dan peningkatan kesejahteraan anggota. Diharapkan dapat dijabarkan dengan upaya memberikan wawasan dan pengetahuan kepada mereka yang akan memasuki pensiun, DPK KORPRI dapat bekerjasama dengan SPD terkait.

Pada Masa Persiapan Pensiun (MPP) wajar kiranya kalau mereka mendapat perhatian khusus dengan cara memberikan keterampilan dan atau pengetahuan usaha ekonomi produktif, program kegiatan yang ada pada SPD sebagian, atau program khusus yang dirancang melalui APBD, dapat diarahkan pada mereka, misalnya Dinas Tenaga Kerja Transmigrasi dan Sosial melalui Balai Latihan Kerjanya bersama Dinas Pertanian, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Dinas Koperasi dan UKM, memberikan pelatihan kegiatan tertentu sesuai minat dan bakat mereka dan akan lebih efektif setelah dilatih mereka dapat modal bergulir, dan ini sebenarnya bisa dilakukan pula oleh Yayasan KORPRI.

Apakah mungkin? Jawabannya ‘kenapa tidak’ semua itu bisa dilakukan, tentu kalau ada komitmen dan kepedulian dari pihak terkait, DPK KORPRI dan Pemerintah saya piker mempunyai kemampuan untuk itu, tinggal kemauan untuk melangkah dan peduli, khususnya bagi golongan tertentu yang tidak memiliki kesempatan berinventasi karena keterbatasan. Mereka telah berbakti dan mengabdi kepada bangsanya, tidak cukup memberikan penghargaan dengan ucapan terima kasih dan uang “kadeudeuh”, mereka harus diarahkan dan dibekali berbagai keterampilan sehingga hidupnya dapat bermakna dalam mengisi hari-harinya. Kita yakin KORPRI dengan paradigm baru akan semakin “berasa” dan dirasakan manfaatnya oleh anggotanya, semoga.

Selamat menikmati pensiunan dengan hati lapang ‘enjoy’ dan tanpa “Post Power Syndrome”. Insya Allah, anda dapat menjalani pensiun dengan tenang, nyaman dan “merdeka” !

 

    (H. WAWAN HERMAWAN JR)

Wartawan Senior Dewan Penasehat PWI

 

Kirim Komentar

Nama
Alamat email
Alamat Web
Komentar
Tulis Kode: