Gerakan Tentara Pelajar di Kuningan (Bagian 2)

KUNINGANMEDIA | Ahad, 05 Mei 2013 19:19
Bagikan ke Facebook
KM
ilustrasi [Foto: Zoen Mahardika]

Pada tahun 1946, tiga pelopor SM Kuningan antara lain Iksan dan MS Moh. Sulaeman mengikuti latihan ketentaraan bersama para pelajar SM Cirebon di Cirebon. Selanjutnya ketiga pelajar tersebut menyelenggarakan latihan ketentaraan di Kuningan yang diikuti oleh beberapa pelajar SM, pelajar Sekolah Guru dan pelajar Sekolah Pertanian. Beberapa pelajar putri diberi tugas mengelola "Dapur umum" , antara lain ampuh dan Ilah. Kegiatan para pelajar ini mendapat restu dan dukungan dari pihak TNI. Oleh Letnan Bakhrudin kesatuan Tentara Pelajar ini diberi latihan dan pembinaan, sebanyak dua kompi.

Ketika tentara Belanda menguasai kota Kuningan, untuk sementara Tentara Pelajar meninggalkan sekolah. Sebagian besar pelajar mengungsi ke daerah pedalaman. Pelajar yang tergabung ke dalam Tentara Pelajar ikut berjuang di Daerah Gerilya III bersama pasukan TNI.

Tentara Pelajar sering bertempur bersama-sama dengan pasukan TNI dan mencegat serdadu Belanda yang sedang berpatroli. Contohnya antara lain peristiwa pencegatan di Ciharendong. Pada waktu itu, TP berada di atas bukit, sedangkan serdadu Belanda di jalan raya di bawah bukit. Pertempuran berlangsung dengan sengit. Dari atas bukit para gerilyawan menembaki serdadu Belanda yang berada di jalan raya. Banyak korban yang jatuh di pihak tentara Belanda.

Setelah beberapa bulan berada di pedalaman, pasukan TNI dengan jalan mengawasi dan melaporkan keadaan pasukan Belanda. Setelah beberapa bulan berada di pedalaman, pasukan TNI menugaskan Tentara Pelajar untuk masuk sekolah lagi. Di kota mereka diberi tugas untuk membantu TNI dengan jalan mengawasi dan melaporkan keadaan pasukan Belanda.

Pada bulan Februari 1948, pasukan TNI melakukian hijrah ke Jawa Tengah dan Yogyakarta. Tentara Pelajar diminta untuk tetap berada di Kuningan. Mereka harus menjaga kota dari ulah tentara Belanda. Tentara Pelajar mendirikan asrama di bekas rumah Daeng Sutigna. Sebelum TNI meninggalkan Kuningan, Tentara Pelajar diberi beberapa senjata api dengan amunisi dan beberapa buah granat.

Setelah terjadi Agresi Militer II yang ditandai dengan serangan pasukan Belanda ke Yogyakarta, pasukan TNI Siliwangi kembali ke Jawa Barat dengan berjalan kaki yang dikenal dengan nama Long March Siliwangi. Pasukan TNI dari daerah Gerilya III di bawah pimpinan Mayor Umar pun sudah berada di Kuningan, dengan markas pusat kegiatannya terletak di Desa Sagarahiang.

Tentara Pelajar di Kuningan melanjutkan kegiatannya dengan mengadakan kontak dengan pasukan TNI di Daerah Gerilya III. Sementara itu, para Tentara Pelajar tetap melaksanakan kegiatan belajar di sekolah masing-masing.

Dikutip Dari : Buku Sejarah Perjuangan Rakyat Kuningan (Dewan Harian Cabang Angkatan '45 Kabupaten Kuningan).
   
 

Kirim Komentar

Nama
Alamat email
Alamat Web
Komentar
Tulis Kode: