Remaja Desa Sindangsari Pertahankan Calung

KUNINGANMEDIA | Ahad, 17 Juni 2012 08:29
Bagikan ke Facebook

SINDANGAGUNG : Kesenian calung, memang sudah dikenal sejak dulu  di tatar Sunda. Bahkan kesenian yang satu ini pernah mengalami keemasan pada masa  tahun 1970-an.  Maestro Calung Hendarso (Alm) merilis puluhan album calung, sangat digemari mulai remaja sampai kalangan orang tua pada saat itu.

Pertunjukan calung pun kerap menajadi tontonan masyarakat terutama dalam panggung hajatan khitanan, pernikahan dan panggung hiburan lainnya.

Tapi sayangnya, kini kesenian yang dulu dijadikan media  hiburan dan sosialisasi itu kini  khususnya di Kabupaten Kuningan boleh dibilang hidup enggan mati tak mau. Lebih parah lagi banyak remaja yang tida kbisa membedakan antara kesenian angklung dengan calung. Tak sedikit pula yang tidak tahu sama sekali apa itu calung.

Di balik itu, ternyata masih ada kalangan remaja yang menaruh perhatian terhadap kesenian calung. Buktinya, kini beberapa remaja di Desa Sindangsari, Kecamatan Sindangagung membentuk grup calung yang dirintis kurang lebih satu tahun lalu.

“Awalnya untuk mengurangi remaja yang suka nongkrong dan membuat gaduh di lingkungan masyarakat. Kita sepakat untuk membentuk grup calung, tanpa mengurangi esensi keremajaannya sehingga tetap merasa senang seperti nongrong,” tutur Andri Supriatna.

Pimpinan Grup Calung Giwangkara Desa Sundangsari. Menurut Andri, Seni calung adalah pilihan yang cocok. Kebanyakan remaja Sindangsari menyukai candaan-candaan yang membuat tertawa, sehingga tidak sulit untuk mempelajari bobodoran dalam calung.

“Kami merasa enjoy dalam mempelajari calung, karna bagi kami ini merupakan hiburan yang tidak mubadzir. Masalah ada panggungan atau tidak yang terpenting kita sudah berniat ngamumule salah satu kesenian Sunda,” . Tambah Akew pemegang kosrek

Mereka berharap pemerintah daerah memperhatikan seni Sunda yang sudah hampir punah khususnya seni calung.

“Mari kita bersama-sama bergandengan tangan untuk mempertahankan budaya Sunda. Karena kami yakin budaya Sunda penuh dengan falsafah yang berharga untuk kehidupan dan pada saat ini seni sunda sudah seperti Giwangkara (matahari yang baru muncul setelah tebenam,” papar Andri.penuh harap. (And’S)* *****

Komentar (1)

nono sujono

" sae pisan kedah aya perhatosan ti pamarentahan kab. kuningan "

Kirim Komentar

Nama
Alamat email
Alamat Web
Komentar
Tulis Kode: