Gubernur Jawa Barat (Bag II )

KUNINGANMEDIA | Sabtu, 20 Agustus 2011 23:56
Bagikan ke Facebook

Dalam waktu tidak lama, saya sudah menerima beberapa surat jawaban, Di antara jawaban itu ada yang pendek, seperti "Hidup RI". Ada pula : Semoga segera berhsil".

Ada pula yang membuat surat pernyataah : "Pemerintah Sementara republik Indonesia telah berdiri dipimpin oleh Oja Soemantri dilengkapi beberapa departemen.

Pernyataan itu disertai dengan nama-nama pemimpin departemen-departemennya. Lebih dari itu juga menyampaikan permintaan agar saya pindah kedudukan ke Wanayasa.

Berpindah-pindah Markas

Dua pesawat Belanda, suatu hari dengan terbang rendah di udara menembaki kota Subang. Akibatnya, banyak rumah -rumah-rumah penduduk yang hancur. Ada penduduk yang mati. Saya merasa bersyukur cepat sembuh dari sakit dan meninggalkan kota Subang beberapa hari sebelum pesawat Belanda itu melancarkan serangan.

Bagi Osa Maliki, serangan demikian tidaklah mengherankan. Kepala Penerangan RI itu, beserta stafnya, merupakan rombongan yang lebih dahulu tiba di sekitar Subang. Mereka mempunyai sumber-sumber informasi tentang tindakan-tindakan kekerasan tentara Belanda di daerah pendudukan. Semuanya direkam menjadi data dan fakta, kemudian disiarkan dalam pamflet yang dikeluarkan sewaktu-waktu. Selaku Gubernur, saya meminta Osa Maliki beserta stafnya tetap membantu Gubernur dan tidak pergi ke tempat lain.

MBKD lima kali pindah tempat. itu dilakukan demi keamanan Kantor Gubernur selalu mengikuti markas ke manapun pindahnya, yang menyediakan tempat-tempat itu dan mengatur segala keperluan adalah Kepala Logistik Mayor H. Oepi Iskandar.

Pemindahan-pemindahan itu dilakukan di antaranya ketika kota Kecamatan Subang diserang dan diduduki oleh tentara Belanda, walau tidak terlalu lama, karena diganggu terus oleh rakyat. Kemudian kembali ke Rancah setelah diserang oleh Kompi Letnan Satu Herman Sarens Soediro.

Pemindahan dilakukan dua kali pada siang hari dan tiga kali pada malam hari. Dua kali melewati semak-semak dan sekali menembus hutan, yaitu dari Cijambu ke Kopeng dan dari Kopeng ke Mandapa.

Dalam perjalanan malam, selalu dikhawtirkan adanya gangguan ular, sebab daerah itu terkenal banyak ularnya , yang umumnya berbisa. Kalau berjalan siang pun, orang sering berpapasan dengan ular. Saya sendiri ketika di Cijambu pernah dua kali melihat ulang belang merayap di tangga rumah pada malam hari.

Ketika di Kopeng, saya dan Letnan Kolonel Soekanda melihat sepasang ular merayap di tebing samping rumah yang dijadikan markas. Rupa ular itu bagus sekali, sebagian warnanya coklat, sebgian lagi hijau. Menurut penduduk setempat jenis ular itu yang paling beracun, jauh melebihi ular belang.

Tetapi dalam tiga kali pindah, hanya satu kali seorang dalam rombongan dipatuk ular, yaitu ketika pindah dari Desa Kopeng ke Desa Mandapa. Korban segera ditolong. Lukanya diperbesar dengan pisau, ke dalam luka itu dimasukkan mesiu yang diambil dari selongsong peluru dan dibakar. semuanya tanpa dibius, tetapi korban tidak pingsan. Ia pemuda desa yang kuat. Waktu biografi ini ditulis, ia masih hidup sebagai pensiunan Camat di wilayah Cirebon..

Sumber : IR. R.H UKAR BRATAKUSUMAH (Dari Jaman Penjajahan Belanda Hingga Jaman Pembangunan)
Seorang Pejuang dan Pelopor Pertambangan
Penerbit : Yayasan Kudjang Bandung 1995

Kirim Komentar

Nama
Alamat email
Alamat Web
Komentar
Tulis Kode: