Kuningan Menyambut Proklamasi Kemerdekaan (Bag II)

KUNINGANMEDIA | Ahad, 14 Agustus 2011 18:46
Bagikan ke Facebook

Menurut Moch. Suja'i (pelaku sejarah), berita Proklamasi Kemerdekaan itu diterimanya pada tanggal 17 Agustus 1945 sore. Pada waktu, datang ke rumahnya pemuda Sukaca, yang baru pulang dari Cirebon dan telah mendengar berita Proklamasi Kemerdekaan.

Maksud kedatangan Sukaca adalah untuk menyampaikan amanat yang dibawanya dari Cirebon. Kata Sukaca, “Saya mendapat amanat dari pimpinan Komite Nasional Indonesia (KNI) Cirebon”(?). Selanjutnya dikatakan bahwa Sukaca membawa salinan teks Proklamasi (/), dan Suja’i ditunjuk sebagai Ketua KNI Kabupaten Kuningan serta dianjurkan agar esok hari tanggal 18 Agustus mengadakan rapatdi di ibukota Kuningan dan di kecamatan=kecamatan.

Dalam rapat-rapat itu, teks Proklamasi harus dibacakan. Untuk menjadi Ketua KNI, Suja’i tidak bersedia dengan alasan kurang aktif dalam masyarakat pada zaman Jepang dan mengusulkan Nitisasmita, yang diketahuinya aktif pada zaman Jepang. Ia hanya mau menerima tugas sebagai formatur pementukan KNI.

Dan pada pukul 19.00 WIB diadakanlah rapat di rumah Mu’tamad di sebelah utara Masjid Agung Kuningan, yang dihadiri oleh beberapa tokoh masyarakat antara lainB. Nitisasmita, mohamad Suja’i, Mu’tamad, Sukaca, Syaefuddin, R. Sulaeman Dimyati, Gondo Suwarno, Moch. Ilyas dan M. Mas’ud.

Hasilnya terpilih secara aklamasi B. Nitisasmita sebagai Ketua KNI, Wakil Ketua Mu’tamad, Sekretaris Sukaca, Bendahara Moh. Sabur, Bagian Penerangan Smbas Hanafi, Bagian Sosial R.A Sanusi dan Bagian Ekonomi Moh. Holi, Kursika, Mas’ud dan Sukail.

Pada keesokan harinya, tanggal 18 Agustus, diumumkan teks Proklamasi di Ibukota Kuningan dan di kecamatan-kecamatan. Demikian menurut keterangan dari Moh. Suja’i
Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) mengadakan siding yang pertama kali tanggal 18 agustus 1945 di Gedung Kesnian (Pasar Baru) Jakarta.

Pada sidang pertama itu disahkan Undang-undang Dasar Negara, dipilih Presiden dan Wakil Presiden, yakni Ir. Soekarno dan Drs. Mohamad Hatta. Untuk sementara Presiden akan dibantu oleh sebuah Komite Nasional.

Tanggal 22 Agustus diputuskan akan membentuk Komite Naional Indonesia (bertugas sebagai parlemen), Badan Keamanan Rakyat (BKR) dan Partai Nasional Indonesia (PNI). Berdasarkan Maklumat tanggal 31 Agustus 1945, pembentukan PNI sebagai partai tunggal ditunda dan akhirnya tidak terwujud.

BKR akan bertugas sebagai pelaksana keamanan umum. Di daerah-daerah, BKRdibentuk di bawah koordinator KNI Daerah.

Jelaslah di sini bahwa inisiatif pembentukan KNI di Cirebon dan Kuningan mendahului keputusan siding PPKI pada tanggal 22 Agustus. Jadi tidak mungkin bahwa pada tanggal 17 Agustus itu juga datang instruksi dari Jakarta ke daerah untuk membentuk KNI.

Pembentukan KNI di Kuningan sebagai langkah cepat para pemuda yang telah member sambutan positif kepada peristiwa Proklamasi Kemerdekaan dan berusaha menyebarluaskan peristiwa bersejarah tersebut.

Kiranya dapat ditarik kesimpulan bahwa peristiwa-peristiwa pentingyang menggerakan rakyat untuk menyambut pernyataan kemerdekaan dan menggelorakan revolusi terjadi dalam minggu pertama sesudah tanggal 17 Agustus 1945.

Setelah KNI Kuningan terbentuk, maka pukul 19.00 (waktu jawa dulu) diadakan pertemuan yang digadiri oleh lebih kurang 20 orang. Tempat pertemuan tersebut ter;etak di sebelah utara alun-alun Kota Kuningan.

Maksud pertemuan adalah untuk merundingkan persiapan penyelenggaraan rapat akbar untuk upacara pembacaan teks Proklamasi pada keesokan harunya. Upacara itu harus dapat dilaksanakan serempak di seluruh Kabupaten Kuningan, yaitu pusat kota dan setiap kota kecamatan, agar berita Proklamasi dapat segera sampai ke pelosok-pelosok wilayah Kabupaten Kuningan.

Pengambilalihan kekuasaan dari Pemerintah Jepang dapat berjalan dengan mudah. Baik rapat-rapat yang diselenggaerakan di Kota Kuningan maupun di kecamatan-kecamatan berlangsung tanpa mendapat gangguan dari pihak Jepang, karena pada saat itu di Kuningan tidak banyak pasukan Jepang.

Di kota Kuningan hanya ada beberapa orang anggota polisi militer Jepang. Pasukan Jepang dalam jumlah sangat kecil ditugaskan untuk menjaga pabrik kaos yang ada di Sangkanhurip.*

Sumber : Buku Perjuangan Rakyat Kuningan Masa Revolusi Kemerdekaan

Kirim Komentar

Nama
Alamat email
Alamat Web
Komentar
Tulis Kode: