Puasa Membentuk Berbagai Dimensi Positif

KUNINGANMEDIA | Senin, 23 Agustus 2010 17:16
Bagikan ke Facebook

Oleh : Drs. H. Udi Suwardi, MA., (Kasi Pendidikan Masyarakat Kementrian Agama Kuningan)

Puasa intinya adalah pengendalian diri, ibadah puasa adalah merupakan ibadah langsung secara vertikal kepada Allah SWT, atau juga sering kita sebut dengan ibadah Mahdloh, karena hanya Allah yang tahu dan akan membalasnya sesuai dengan hadits “ Ashaumu lii wa ana ajzi bihi “ yang artinya ‘ ibadah puasa adalah untuk-Ku dan Aku Sendiri yang akan membalasnya’.

Puasa dapat membentuk berbagai macam sifat dan dimensi positif, diantaranya :

DIMENSI RITUAL, Puasa merupakan ibadah secara vertikal kepada Allah SWT. Dengan berpuasa akan dapat membentuk manusia dalam mengantarkan kepada ketaqwaan. Kata taqwa sering kita sebut dan mudah diucapkan tetapi amat susah direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari, maka dengan berpuasa Insya Allah derajat mutaqin dapat mudah tercapai. Salah satu sifat mutaqin adalah suka berpuasa wajib ataupun puasa sunah.

PUASA SEBAGAI DIMENSI SOSIAL, orang yang berpuasa nalurinya selalu peduli terhadap orang lain, artinya adalah dengan puasa Kita bisa merasakan laparnya, haus dahaganya orang-orang yang selalu serba kekurangan, seperti fakir miskin, dhuafa, dll, secara nurani kita bisa merasakannya. Dikaitkan dengan musibah yang menimpa saudara kita di Bengkulu baru-baru ini, kita merasa prihatin dan turut berduka, mudah-mudahan selalu diberi ketabahan dalam menghadapi musibah gempa bumi ini.

PUASA DAPAT MEMBENTUK DIMENSI SPIRITUAL, orang yang berpuasa pribadinya akan selalu terdorong untuk melakukan kebaikan, baik itu ibadah secara vertikal kepada Allah SWT ataupun secara horizontal sesama manusia atau hablum minannas. Mereka yang berpuasa akan selalu menjaga dan berusaha menghindari dari hal-hal yang membatalkan dan sekaligus menggugurkan pahala puasa.

Hal-hal yang dapat membatalkan pahala puasa diantaranya, Ghibah (menggunjing dan membicarakan kejelakan orang lain), Al-Kidbu (berbohong dan berbicara tidak sesuai dengan kenyataan), Namimah (mengadu-ngadu, mengadu domba yang menimbulkan pertengkaran, permusuhan), Yaminul Ghomus (sumpah palsu). Apabila orang yang berpuasa kemudian dijadikan saksi dalam persidanngan atau bersumpah di depan pengadilan kemudian bersumpah dengan kesaksian palsu, maka nilai ibadahnya gugur.

PUASA MEMBENTUK DIMENSI EMOSIONAL, dengan berpuasa kita melatih diri untuk bersabar dan menahan nafsu amarah yang selalu mengajak dan mencelakakan diri kita. Kadang-kadang emosi lepas kontrol, tidak terkendali dapat merugikan diri kita sendiri dan orang lain, sesuai dengan hadits Roasul “Ashaumu Junnantun” artinya “puasa adalah perisai/benteng “. Bila orang yang berpuasa diajak bermaksiat, maka akan dijawab dengan ucapan ‘anna shoimun’, saya sedang berpuasa. Bila dimensi emosional terbentuk dengan baik, maka kita akan terjaga dan terpelihara dari sifat dan sikap tercela (madmumah).

PUASA MEMBENTUK DIMENSI INTELEKTUAL, orang yang berpuasa akan terbentuk pola fikir yang jernih, bersih, positif dan dapat menerima nasihat dengan baik, cerdas IQ, karena hati dan fikiran itu akalnya bersih sesuai dengan pepatah yang mengatakan “All-aqlu salimu fil jismi saalimi”, artinya “pada akal yang sehat terdapat jiwa yang kuat/sehat”. Dalam kitab fathul wahab dan kitab durotun nasihin, Allah bertanya kepada nafsu: “hai nafsu siapa kau dan siapa aku?, kemudian nafsu menjawab “ana-ana, anta-anta”, kemudian nafsu dibakar didalam api neraka selama 100 tahun, setelah itu nafsu ditanya lagi oleh Allah, “siapa kamu dan siapa aku?, baru setelah 3 kali nafsu menjawab “anna makhluk wa anta Robbii”.

Itulah riwayat bahwa akal sebagai filter yang dapat membedakan sesuatu yang baik degnan yang buruk dan hati yang membenarkan dan meyakininya sedangkan nafsu dapat diredam dan dikalahkan dengan puasa.

Mudah-mudahan dapat bermanfaat dan semoga ibadah puasa kita, shalat fardlu dan sunahnya serta amalan lainnya dapat diterima Allah SWT, Amiiin.....

Kirim Komentar

Nama
Alamat email
Alamat Web
Komentar
Tulis Kode: